Cara Melakukan Financial Checkup Sendiri

Cara Mudah Financial Check-up Sendiri

“Gimana cara financial checkup sendiri tanpa perlu konsultasi?”

Pertanyaanku sewaktu awal belajar perencanaan keuangan atau financial planning secara otodidak dari buku, artikel blog, kelas daring, dan stalking akun-akun keuangan di Instagram yang membahas apa itu financial checkup, gimana cara memahami dan melakukan financial checkup itu sendiri.

Throwback ke tahun 2016 dimana aku sedang dalam fase first-jobber alias baru pertama dapat pekerjaan dan punya gaji. Mungkin kamu pernah dengar ungkapan “pajak gaji pertama”? Pernah nggak, kamu? Aku pernah mengalaminya. Sewaktu tiba hari gajian, keluarlah ungkapan-ungkapan itu dari teman-teman satu kantor mulai dari ajakan traktir makan sampai minta karaokean massal. Aku yang waktu itu baru lulus SMA usia 19 tahun, polos mengiyakan. Habis itu murung dan bingung kok uangnya tinggal sedikit, pada makan apa aja, ngapain aja. Duh!

Dulu sampai sekarang masih suka main Twitter, aku suka re-tweet hal-hal yang relateable dengan keadaanku sendiri. Waktu itu, aku sengaja cari tips mengatur keuangan untuk pemula, cara mengatur gaji bulanan. Sampai ketemu hashtag #TipsFinansial yang dibuat oleh Prita Ghozie seorang Chief Planner dari ZAP Finance. Dia sering buat thread tentang financial checkup, financial planning, dan budgeting. Hampir semuanya aku re-tweet karena bahasanya mudah dimengerti dan benar-benar ngerasa cocok sama tipsnya. Ibarat kata orang Jawa, aku kesengsem.

Nah, sekarang apa yang terbesit dalam pikiran kamu saat mendengar kata checkup? Mungkin kamu akan jawab medical checkup, ya? Benar, kata “medical checkup” sering kita jumpai di kampanye sosialisasi kesehatan sebagai upaya menjaga kesehatan tubuh dan biasanya disertai slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati.”

Layaknya kesehatan, financial checkup merupakan hal penting yang bertujuan untuk mendeteksi dini “kesehatan” uang seseorang.

Seberapa penting sih financial checkup itu? Ibarat kesehatan, masa iya tunggu sakit dulu baru periksa? Mungkin bisa, tapi sudah terlambat. Jadi, jangan ditunda ya! Mulailah meluangkan waktu minimal setahun sekali atau bisa juga per enam atau tiga bulan sesuai keperluan dan kerajinan masing-masing. Kamu juga perlu perhatikan 3 hal berikut saat melakukan financial checkup sendiri.

Mumpung masih awal Oktober, bulan pertama di kuartal keempat tahun 2019, kamu bisa coba melakukan financial checkup sendiri sebagai simulasi perencanaan di tahun depan atau refleksi pencapaian di tahun ini.

Caranya mudah dan bisa dipakai walaupun kamu pemula. Diadaptasi dari tips Prita Ghozie. Yuk, simak cara melakukan financial checkup sendiri:

1. Hitung kekayaan bersih

Dengan buat tabel terdiri dari dua kolom yaitu aset dan utang. Kolom aset memuat kas, investasi, dan tabungan sedangkan kolom utang memuat utang jangka pendek dan jangka panjang. Selanjutnya, jumlahkan per masing-masing kolom dan hitung kekayaan bersih dengan cara total aset dikurangi total utang.

Financial Check-up Tabel Kekayaan Bersih
Tabel Pos-Pos Kekayaan Bersih
2. Hitung arus kas

Dengan menghitung arus kas, kita bisa mengetahui pos kewajiban, kebutuhan, dan keinginan serta melacak berapa pemasukan dan pengeluaran sehari-hari dan kemana aja perginya uang itu digunakan. Aku mau berbagi spreadsheet online gratis dan praktis yang dimodifikasi dari template Google Sheet untuk memudahkan kamu melacak pemasukan dan pengeluaran setiap bulan secara otomatis. Sebelum kamu mencobanya, ada beberapa hal yang musti diperhatikan agar tidak terjadi error. Untuk lebih jelasnya, boleh cek highlight story Instagram-ku (@triyosigirinda) di judul Budgeting dan dapatkan spreadsheet-nya di sini. Kalau kamu lebih suka menulis dengan tangan, ada juga yang menjual printable money planner, kamu bisa cari @uangplanner di Instagram.

Financial Check-up Tabel Pos Arus Kas
Tabel Pos-Pos Arus Kas
3. Hitung rasio-rasio keuangan dasar
a. Rasio dana darurat

menggambarkan seberapa besar aset atau harta lancar yang bisa memenuhi biaya hidup. Dana darurat hanya digunakan untuk keadaan darurat misalnya sakit, pemutusan hubungan kerja (PHK), perbaikan rumah jika tiba-tiba AC bocor, atap rumah bolong, kabel mesin cuci digigit tikus. Sebaiknya, dana darurat ini dibuat terpisah dari rekening utama, jumlahnya bergantung status seseorang. Belum menikah minimal 3x pengeluaran bulanan, sudah menikah minimal 6x pengeluaran bulanan, menikah dan punya anak minimal 12x pengeluaran bulanan, serta ditambahkan di saat momen-momen spesial misalnya ketika dapat bonus insentif, tunjangan hari raya (THR).

b. Rasio menabung

menggambarkan seberapa besar tabungan dan investasi dibandingkan pemasukan. Jangan keliru ya, tabungan dan investasi itu berbeda. Pelajari perbedaan keduanya.

c. Rasio berutang

Sebelum berutang, kamu perlu tau perbedaan utang produktif dan utang konsumtif. Sebisa mungkin, hindari atau kurangi kebiasaan berutang konsumtif agar tidak membebani porsi keuangan. Kalau terpaksa, mulai cari, pelajari dan beralih ke utang produktif dengan catatan bernilai guna jangka panjang dibandingkan cicilannya, suku bunga kompetitif, dan bisa menghasilkan pemasukan tambahan.

Ngomongin tentang utang, banyak dari kita yang punya kartu kredit. Sekarang banyak dijumpai penawaran promosi kartu kredit baik itu langsung dihubungi telemarketing bank ataupun gerai-gerai bank yang ada di pusat perbelanjaan atau hiburan. Tidak salah punya kartu kredit asalkan bisa mengatur dan mengalokasikan cicilannya dengan benar. Idealnya tidak lebih dari dua kartu kredit dan kedua jumlah cicilannya maksimal 30% dari penghasilan rutin. Kamu tidak cocok pakai kartu kredit kalau menggangap itu uang tambahan, mudah tergiur cicilan 0%, hanya mau membayar tagihan cicilan minimum, dan digunakan untuk berfoya-foya. Ingat, namanya utang ya harus diganti dan dibayar lunas. Jangan sampai beli gadget paling modern atau travelling keliling dunia cuma demi feeds Instagram tapi ngutang dan pusing bayarnya terus ngerepotin orang lain pula! Hih, malu!

Biaya hidup itu murah. Biaya gaya pamer hidup itu yang mahal.

Menurut hukum Fisika, tekanan berbanding lurus dengan gaya. Jangan sampai hidupmu tertekan hanya karena ingin memenuhi gaya hidup hedonis dan konsumtif semata.

Indikator financial checkup:

1. Rasio menabung

= total investasi setahun dibagi total penghasilan setahun. Kalau hasilnya 0 – 5% itu gawat darurat, 10% artinya masih pemula, dan 25-30% artinya sehat.

2. Rasio kemampuan bayar cicilan

= total utang setahun dibagi total penghasilan setahun. Kalau hasilnya >35% itu gawat darurat, 30% artinya masih pemula, dan 0-20% artinya sehat.

3. Rasio likuiditas

= total aset setahun dibagi pengeluaran rutin sebulan. Kalau hasilnya 0 itu gawat dan tidak pernah menyisihkan uang, 2 artinya masih pemula karena nilai uang hanya sebesar 2x dari pengeluaran rutin sebulan, 6-12 artinya sehat.

Mau coba financial checkup gratis tapi nggak mau hitung sendiri?

Mungkin kamu masih bingung atau malas melakukan financial checkup sendiri, boleh coba tips berikut:

1. Isi survey dari Fidelity tentang Financial Wellness.
2. Ikuti POPZ Clinic setiap hari Kamis di Instagram (@zapfinance)

Isi formatnya sesuai kondisi keuangan kamu dimulai dari usia, status, penghasilan & pengeluaran per bulan, jumlah aset aktif/ lancar, jumlah utang, jumlah tanggungan, dan masalah atau tujuan keuangan lalu kirim via DM. Kalau beruntung, kamu masuk dari 5 orang terplih dengan nama dibuat anonim. Hasil akhir akan dibagi dalam cashflow bulanan, checkup, analisa, kesimpulan, dan final noteZ.

3. Ikuti Financial Checkup setiap bulan di Instagram (@jeniusconnect)

Baru-baru ini, Jenius bersama perencana keuangan (@mettaanggriani) mendukung #temanjenius yang beresolusi ingin memiliki keuangan sehat dengan melakukan financial checkup gratis. Mekanismenya cukup menceritakan kondisi dan tujuan keuangan yang ingin kamu raih dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Nantinya akan ada 1 orang terpilih dan langsung dihubungi tim Jenius via DM lalu dimintai alamat email dan nomor handphone untuk melengkapi formulir yang akan dianalisis. Hasil analisis akan diterbitkan di website Jenius dengan dibuat nama anonim.

Mau kepoin pengalaman dan belajar dari hasil financial checkup orang lain?

Kamu bisa beli e-book MonTalk yaitu hasil kompilasi kasus financial checkup yang dianalisis oleh (@andhika.diskartes) di Instagram.

Wah, ini pelopor financial checkup gratis di Instagram! Gilaaaa, mantap, salut banget. Gaya bahasanya lugas dan straight to the point. Maunya dipanggil Kakanda, tuh kan berasa dekat aja mirip rasa saudara atau teman senior di pramuka. #Montalk berasal dari gabungan kata Money dan Talk, kegiatan financial checkup ini dilakukan setiap hari Kamis via DM lalu dibalas dalam bentuk story Instagram. Dalam setiap topik keuangan, ada 13 orang terpilih yang dianalisis. Rame banget, ngeliat story mirip semut berbaris. Beberapa story isinya sangat menarik sampai rencana rilis buku dari #MonTalk pun terwujud. Sejak itu, highlight story tertentu dihapus untuk dianalisis lebih mendalam. Seingatku, buku ini rilis sewaktu momen peringatan 17 Agustus kemerdekaan Indonesia dan tanpa menunggu lama langsung sold out. Sekarang hanya tersedia versi e-book. Aku nggak beli, tapi kalau kamu tertarik, boleh coba baca dulu resensi buku #Montalk dari Andri Sutanto.

Triyosi Girinda Puri

Posted by Triyosi Girinda Puri

She was born prematurely. As she grows up, she has believed that big things often have small beginnings.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *